Postingan

Quotes

 

Aku Mencintaimu Tapi Tuhan Lebih Dulu Memanggilku Pulang

Gambar
  Bab 7: Rahasia yang Tidak Pernah Diceritakan Hari itu Nayara terlihat berbeda. Lebih lelah. “Kamu tidak apa-apa?” Dia tersenyum. “Capek sedikit.” Tapi aku tahu… itu bukan sekadar capek. --- Beberapa hari kemudian… dia tidak datang. Satu hari. Dua hari. Tiga hari. Masjid terasa kosong. --- Aku mulai mencari. Sampai akhirnya aku menemukan alamatnya. Dan di situlah… semua berubah.

Aku Mencintaimu Tapi Tuhan Lebih Dulu Memanggilku Pulang

Gambar
  Bab 9: Cinta yang Tidak Meminta Memiliki “Aku tidak bilang… karena tidak ingin kamu terikat.” “Kenapa sekarang?” “Karena kamu harus tahu.” --- Air mataku jatuh. “Aku tidak peduli.” “Aku mau tetap di sini.” Dia menggeleng. “Jangan.” “Kenapa?” “Aku tidak ingin kamu mencintai seseorang… yang akan kamu kehilangan.” --- Dan di situlah… aku mengerti: Cinta… tidak selalu egois.

Aku Mencintaimu Tapi Tuhan Lebih Dulu Memanggilku Pulang

Gambar
 Bab 8: Kebenaran yang Menghancurkan Rumah itu sederhana. Pintu terbuka. Seorang wanita tua menyambut. “Ibu Nayara?” “Kamu Raka?” Aku terkejut. “Iya…” “Nayara sering cerita tentang kamu.” Dadaku bergetar. --- Aku masuk. Dan di kamar itu… Nayara terbaring. Lemah. Dengan alat medis di sekitarnya. Dunia berhenti. --- “Aku sakit sejak lama,” katanya pelan. “Waktuku… tidak banyak.” Kalimat itu… menghancurkan segalanya.

Aku Mencintaimu Tapi Tuhan Lebih Dulu Memanggilku Pulang

Gambar
Bab 6: Dua Arah yang Berbeda Hari-hari berikutnya tidak lagi sederhana. Ada Nayara. Ada Alika. Dan di tengah itu… ada aku. Dimas hanya berkata: “Kadang hidup tidak memberi pilihan mudah… tapi tetap memaksa kita memilih.” --- Aku bertemu Nayara. “Nayara…” “Iya, Raka?” “Apa seseorang yang pergi… pantas diperjuangkan lagi saat kembali?” Dia menatapku. “Bisa.” “Tapi tidak semua yang kembali… layak diperjuangkan.” Aku diam. Dia tidak bertanya lebih jauh. Dan justru itu… membuatku berpikir lebih dalam.

Aku Mencintaimu Tapi Tuhan Lebih Dulu Memanggilku Pulang

Gambar
Bab 5: Saat Perasaan Diuji… dan Masa Lalu Mulai Kembali Hidup tidak pernah benar-benar diam. Saat kita mulai merasa tenang… biasanya itu pertanda, sesuatu sedang disiapkan. Ponselku kembali bergetar. Dimas. Kali ini aku angkat. “Ka, lo harus ketemu gue. Penting.” Nada suaranya tidak biasa. Aku mengerutkan dahi. “Ada apa?” “Datang aja ke kafe biasa. Sekarang.” Aku datang. Dan di sana… bukan hanya Dimas. Ada seseorang yang sudah lama tidak kulihat. Alika. Masa laluku. Perempuan yang dulu hampir menjadi masa depanku… sebelum semuanya hancur tanpa penjelasan yang jelas. Dia berdiri. Menatapku. “Raka…” Suaranya masih sama. Dan anehnya… hatiku tidak lagi seperti dulu. “Gue balik, Ka,” katanya pelan. Aku diam. “Dan gue mau kita mulai lagi.” Kalimat itu… yang dulu sangat ingin kudengar… sekarang terasa… asing. Aku menarik napas panjang. “Kenapa sekarang?” Dia menunduk. “Aku salah waktu itu. Aku pergi… tanpa ngerti apa yang sebenarnya aku butuhkan.” Aku tersenyum pahit. “Kamu bukan satu-satunya...