Postingan

Menampilkan postingan dengan label Fiksi

Yang Tidak Pernah Pulang/Bab-3

Bab 3 — Kedekatan Sejak pertemuan itu, tidak ada yang benar-benar berubah—setidaknya di permukaan. Aku tetap datang ke kedai yang sama. Memesan kopi yang sama. Duduk di kursi yang sama. Namun, kini ada sesuatu yang berbeda. Aku menunggu. Bukan sesuatu yang pasti. Bukan janji yang pernah diucapkan. Hanya sebuah kemungkinan—yang entah mengapa terasa cukup untuk membuatku kembali. Dan seperti kebiasaan yang perlahan terbentuk tanpa disadari, Nayara kembali datang. Tidak setiap hari. Tidak dengan waktu yang bisa ditebak. Namun selalu pada saat yang terasa… tepat. “Kamu lagi,” katanya suatu sore, duduk di kursi seberang tanpa banyak basa-basi. Aku tersenyum tipis. “Sepertinya aku yang harus bilang begitu.” Nayara mengangkat bahu ringan. “Mungkin kita hanya sering berada di tempat yang sama.” “Atau mencari hal yang sama,” balasku. Ia tidak langsung menjawab. Hanya menatap cangkir di depannya, seolah ada sesuatu yang lebih menarik di sana daripada percakapan kami. Hening kembali hadir. Namun ...

Yang Tidak Pernah Pulang/Bab-2

 Bab 2 — Pertemuan Senja itu tidak istimewa. Langit hanya menua seperti biasa—perlahan redup, tanpa banyak janji. Aku duduk di sudut kedai kecil, memandangi secangkir kopi yang hampir dingin. Bukan karena tidak ingin diminum, melainkan karena pikiranku terlalu sibuk mengembara. Lalu, ia datang. Langkahnya tidak tergesa. Tatapannya tidak mencari siapa pun. Namun, entah mengapa, kehadirannya terasa seperti sesuatu yang pernah aku tunggu… tanpa pernah aku sadari. Ia duduk di kursi seberang. “Apa kamu selalu duduk sendirian seperti ini?” tanyanya. Aku sedikit terkejut, lalu tersenyum tipis. “Tidak selalu. Hanya saat dunia terasa terlalu ramai.” “Ramai di luar… atau di dalam?” lanjutnya. Aku terdiam sejenak. “Kadang yang di dalam lebih bising.” Ia mengangguk pelan. “Aku Nayara.” “Riki.” Hening sejenak, tetapi tidak canggung. “Kamu sering memikirkan sesuatu yang tidak bisa kamu ubah, ya?” katanya lagi. Aku tertawa kecil. “Kelihatan sekali?” “Tidak. Tapi terasa.” Aku menatapnya. Ada sesua...

Yang Tidak Pernah Pulang/Bab-1

Bab 1 — Malam yang Jujur Malam tidak pernah benar-benar sunyi. Ia hanya lebih jujur dibandingkan siang. Di bawah cahaya lampu yang redup dan suara kota yang perlahan mereda, aku duduk seorang diri. Seakan dunia memberi jarak agar aku dapat mendengar isi pikiranku sendiri. Ada hal-hal yang tidak pernah selesai. Bukan karena tidak dapat diselesaikan, melainkan karena hati enggan menerima. Aku pernah percaya bahwa setiap yang datang akan menetap. Keyakinan itu tumbuh perlahan, seperti doa yang diulang setiap malam. Hingga pada suatu waktu, aku menyadari bahwa tidak semua yang kita jaga ditakdirkan untuk tinggal. Ada yang hadir hanya untuk mengajarkan bahwa kehilangan adalah sesuatu yang nyata. Dan lebih dari itu—manusia sering mencintai sesuatu yang tidak pernah benar-benar ia miliki. Aku mengenal perasaan itu saat bertemu dengan Nayara. Namanya sederhana, tetapi kehadirannya tidak pernah biasa. Ia datang tanpa banyak kata, namun meninggalkan jejak yang sulit dihapus begitu saja. Nayara t...