Yang Tidak Pernah Pulang/Bab-3
Bab 3 — Kedekatan Sejak pertemuan itu, tidak ada yang benar-benar berubah—setidaknya di permukaan. Aku tetap datang ke kedai yang sama. Memesan kopi yang sama. Duduk di kursi yang sama. Namun, kini ada sesuatu yang berbeda. Aku menunggu. Bukan sesuatu yang pasti. Bukan janji yang pernah diucapkan. Hanya sebuah kemungkinan—yang entah mengapa terasa cukup untuk membuatku kembali. Dan seperti kebiasaan yang perlahan terbentuk tanpa disadari, Nayara kembali datang. Tidak setiap hari. Tidak dengan waktu yang bisa ditebak. Namun selalu pada saat yang terasa… tepat. “Kamu lagi,” katanya suatu sore, duduk di kursi seberang tanpa banyak basa-basi. Aku tersenyum tipis. “Sepertinya aku yang harus bilang begitu.” Nayara mengangkat bahu ringan. “Mungkin kita hanya sering berada di tempat yang sama.” “Atau mencari hal yang sama,” balasku. Ia tidak langsung menjawab. Hanya menatap cangkir di depannya, seolah ada sesuatu yang lebih menarik di sana daripada percakapan kami. Hening kembali hadir. Namun ...