Bab 2 — Pertemuan Senja itu tidak istimewa. Langit hanya menua seperti biasa—perlahan redup, tanpa banyak janji. Aku duduk di sudut kedai kecil, memandangi secangkir kopi yang hampir dingin. Bukan karena tidak ingin diminum, melainkan karena pikiranku terlalu sibuk mengembara. Lalu, ia datang. Langkahnya tidak tergesa. Tatapannya tidak mencari siapa pun. Namun, entah mengapa, kehadirannya terasa seperti sesuatu yang pernah aku tunggu… tanpa pernah aku sadari. Ia duduk di kursi seberang. “Apa kamu selalu duduk sendirian seperti ini?” tanyanya. Aku sedikit terkejut, lalu tersenyum tipis. “Tidak selalu. Hanya saat dunia terasa terlalu ramai.” “Ramai di luar… atau di dalam?” lanjutnya. Aku terdiam sejenak. “Kadang yang di dalam lebih bising.” Ia mengangguk pelan. “Aku Nayara.” “Riki.” Hening sejenak, tetapi tidak canggung. “Kamu sering memikirkan sesuatu yang tidak bisa kamu ubah, ya?” katanya lagi. Aku tertawa kecil. “Kelihatan sekali?” “Tidak. Tapi terasa.” Aku menatapnya. Ada sesua...
Komentar
Posting Komentar