Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2026

Yang Tidak Sempat

Gambar
Aku ingin pulang tapi rumah sudah berubah menjadi kenangan yang tidak bisa kupeluk. Di meja makan, masih ada kursi yang kosong, seolah seseorang hanya pergi sebentar— padahal kita tahu ia tidak akan kembali. Aku mengingat suaramu bukan dari kata-kata, tapi dari jeda yang dulu sering kuabaikan. Maaf, adalah kata yang paling berat ketika tidak ada lagi yang bisa mendengarnya. Dan kini aku hidup dengan hal-hal yang tidak sempat: pelukan yang ditunda, telepon yang tidak jadi, dan cinta yang terlalu lama kusimpan. ---

Nyawa yang Menulis

 Aku menulis bukan karena ingin dikenal, tapi karena ada sesuatu dalam dada yang tidak bisa diam. Ia mengetuk pelan, lalu memaksa menjadi kata. Kadang ia luka, kadang ia doa, kadang ia hanya sunyi yang ingin didengar. Aku tidak mencari tepuk tangan, aku hanya ingin jujur. Sebab di dunia yang penuh kepalsuan, kejujuran adalah satu-satunya keberanian. Jika kau membaca ini, maka kita sama— dua jiwa yang pernah hancur, dan memilih untuk tetap hidup.

Paradoks Menjadi Manusia

 Manusia ingin dimengerti, tapi sering kali tidak mau mengerti. Ia ingin dicintai, tapi takut membuka hati. Ia mengejar kebahagiaan, namun berjalan ke arah yang menjauhkannya. Inilah paradoks itu. Kita hidup di antara keinginan dan ketakutan, antara harapan dan kenyataan. Dan mungkin, kedewasaan bukan tentang menemukan jawaban— melainkan menerima bahwa tidak semua hal harus dijawab.

Tentang Diam

 Diam bukan berarti kosong, kadang ia penuh— hanya saja tidak semua orang mampu mendengarnya.