Aku Mencintaimu, Tapi Tuhan Lebih Dulu Memanggilku Pulang
Bab 1: Pertemuan yang Tidak Direncanakan Langit sore itu tidak benar-benar mendung. Tapi entah kenapa, warnanya terasa berat—seolah langit sedang memikirkan sesuatu yang tidak mampu ia ucapkan. Aku berdiri di trotoar, memandangi orang-orang yang berlalu lalang seperti arus yang tak pernah bertanya ke mana arah hidupnya. Semua berjalan cepat. Semua terlihat punya tujuan. Kecuali aku. Di umur yang seharusnya sudah mulai “mapan”, aku justru merasa seperti kehilangan arah. Bukan karena tidak punya mimpi—justru karena terlalu banyak yang ingin kugapai, sampai akhirnya aku diam di tempat. Ironis. Manusia seringkali tidak kalah karena gagal. Tapi karena terlalu lama berpikir. Aku menghela napas panjang. Di dalam dada, ada sesuatu yang sulit dijelaskan. Bukan luka, bukan juga bahagia. Seperti ruang kosong… yang menunggu diisi, tapi aku sendiri tidak tahu dengan apa. “Kadang hidup itu aneh ya…” Aku bergumam pelan. “Kita mencari sesuatu yang bahkan kita sendiri tidak benar-benar pahami.” Langkah...