Nyawa yang Menulis

 Aku menulis bukan karena ingin dikenal,

tapi karena ada sesuatu dalam dada yang tidak bisa diam.


Ia mengetuk pelan,

lalu memaksa menjadi kata.


Kadang ia luka,

kadang ia doa,

kadang ia hanya sunyi yang ingin didengar.


Aku tidak mencari tepuk tangan,

aku hanya ingin jujur.


Sebab di dunia yang penuh kepalsuan,

kejujuran adalah satu-satunya keberanian.


Jika kau membaca ini,

maka kita sama—


dua jiwa yang pernah hancur,

dan memilih untuk tetap hidup.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yang Tidak Sempat

Yang Tidak Pernah Pulang/Bab-2