Aku ingin pulang tapi rumah sudah berubah menjadi kenangan yang tidak bisa kupeluk. Di meja makan, masih ada kursi yang kosong, seolah seseorang hanya pergi sebentar— padahal kita tahu ia tidak akan kembali. Aku mengingat suaramu bukan dari kata-kata, tapi dari jeda yang dulu sering kuabaikan. Maaf, adalah kata yang paling berat ketika tidak ada lagi yang bisa mendengarnya. Dan kini aku hidup dengan hal-hal yang tidak sempat: pelukan yang ditunda, telepon yang tidak jadi, dan cinta yang terlalu lama kusimpan. ---
Bab 2 — Pertemuan Senja itu tidak istimewa. Langit hanya menua seperti biasa—perlahan redup, tanpa banyak janji. Aku duduk di sudut kedai kecil, memandangi secangkir kopi yang hampir dingin. Bukan karena tidak ingin diminum, melainkan karena pikiranku terlalu sibuk mengembara. Lalu, ia datang. Langkahnya tidak tergesa. Tatapannya tidak mencari siapa pun. Namun, entah mengapa, kehadirannya terasa seperti sesuatu yang pernah aku tunggu… tanpa pernah aku sadari. Ia duduk di kursi seberang. “Apa kamu selalu duduk sendirian seperti ini?” tanyanya. Aku sedikit terkejut, lalu tersenyum tipis. “Tidak selalu. Hanya saat dunia terasa terlalu ramai.” “Ramai di luar… atau di dalam?” lanjutnya. Aku terdiam sejenak. “Kadang yang di dalam lebih bising.” Ia mengangguk pelan. “Aku Nayara.” “Riki.” Hening sejenak, tetapi tidak canggung. “Kamu sering memikirkan sesuatu yang tidak bisa kamu ubah, ya?” katanya lagi. Aku tertawa kecil. “Kelihatan sekali?” “Tidak. Tapi terasa.” Aku menatapnya. Ada sesua...
Aku menulis bukan karena ingin dikenal, tapi karena ada sesuatu dalam dada yang tidak bisa diam. Ia mengetuk pelan, lalu memaksa menjadi kata. Kadang ia luka, kadang ia doa, kadang ia hanya sunyi yang ingin didengar. Aku tidak mencari tepuk tangan, aku hanya ingin jujur. Sebab di dunia yang penuh kepalsuan, kejujuran adalah satu-satunya keberanian. Jika kau membaca ini, maka kita sama— dua jiwa yang pernah hancur, dan memilih untuk tetap hidup.
Komentar
Posting Komentar