Yang Tidak Pernah Pulang/Bab-2
Bab 2 — Pertemuan
Senja itu tidak istimewa. Langit hanya menua seperti biasa—perlahan redup, tanpa banyak janji.
Aku duduk di sudut kedai kecil, memandangi secangkir kopi yang hampir dingin. Bukan karena tidak ingin diminum, melainkan karena pikiranku terlalu sibuk mengembara.
Lalu, ia datang.
Langkahnya tidak tergesa. Tatapannya tidak mencari siapa pun. Namun, entah mengapa, kehadirannya terasa seperti sesuatu yang pernah aku tunggu… tanpa pernah aku sadari.
Ia duduk di kursi seberang.
“Apa kamu selalu duduk sendirian seperti ini?” tanyanya.
Aku sedikit terkejut, lalu tersenyum tipis.
“Tidak selalu. Hanya saat dunia terasa terlalu ramai.”
“Ramai di luar… atau di dalam?” lanjutnya.
Aku terdiam sejenak.
“Kadang yang di dalam lebih bising.”
Ia mengangguk pelan.
“Aku Nayara.”
“Riki.”
Hening sejenak, tetapi tidak canggung.
“Kamu sering memikirkan sesuatu yang tidak bisa kamu ubah, ya?” katanya lagi.
Aku tertawa kecil.
“Kelihatan sekali?”
“Tidak. Tapi terasa.”
Aku menatapnya. Ada sesuatu dalam cara bicaranya—tenang, tetapi seperti menyimpan banyak hal.
“Kamu sendiri ke sini untuk apa?” tanyaku.
“Untuk diam,” jawabnya.
“Hanya itu?”
“Dan untuk tidak berpura-pura kuat.”
Kalimat itu sederhana, tetapi jatuh tepat di tempat yang selama ini aku sembunyikan.
“Berarti kita punya alasan yang sama,” kataku pelan.
Nayara menggeleng.
“Kita hanya sama-sama lelah.”
Aku menghela napas.
“Menurutmu… apa semua orang yang datang harus pergi?” tanyaku.
Ia menatap ke luar jendela.
“Tidak semua. Sebagian tinggal… tetapi tidak selamanya.”
“Lalu yang pergi?”
Nayara menatapku.
“Mereka meninggalkan sesuatu.”
“Seperti apa?”
“Versi baru dari dirimu… yang belum pernah kamu kenal.”
Aku terdiam.
Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang tidak mencoba menghibur, tidak mencoba memperbaiki—tetapi melihat dengan jujur.
Dan anehnya, itu terasa menenangkan.
Pertemuan itu tidak terasa istimewa.
Namun, tanpa aku sadari—
itulah awal dari sesuatu yang kelak akan sulit aku lepaskan.
Komentar
Posting Komentar