Yang Tidak Pernah Pulang/Bab-1
Bab 1 — Malam yang Jujur
Malam tidak pernah benar-benar sunyi. Ia hanya lebih jujur dibandingkan siang.
Di bawah cahaya lampu yang redup dan suara kota yang perlahan mereda, aku duduk seorang diri. Seakan dunia memberi jarak agar aku dapat mendengar isi pikiranku sendiri.
Ada hal-hal yang tidak pernah selesai. Bukan karena tidak dapat diselesaikan, melainkan karena hati enggan menerima.
Aku pernah percaya bahwa setiap yang datang akan menetap. Keyakinan itu tumbuh perlahan, seperti doa yang diulang setiap malam. Hingga pada suatu waktu, aku menyadari bahwa tidak semua yang kita jaga ditakdirkan untuk tinggal.
Ada yang hadir hanya untuk mengajarkan bahwa kehilangan adalah sesuatu yang nyata.
Dan lebih dari itu—manusia sering mencintai sesuatu yang tidak pernah benar-benar ia miliki.
Aku mengenal perasaan itu saat bertemu dengan Nayara.
Namanya sederhana, tetapi kehadirannya tidak pernah biasa. Ia datang tanpa banyak kata, namun meninggalkan jejak yang sulit dihapus begitu saja.
Nayara tidak pernah berjanji untuk tinggal. Namun, aku yang diam-diam berharap.
Ia tidak pernah meminta untuk dipahami. Namun, aku yang sibuk menafsirkan.
Dan pada akhirnya, bukan ia yang keliru—melainkan aku yang terlalu jauh berjalan di atas harapan yang tidak pernah ia ucapkan.
Aku tersenyum tipis. Bukan karena bahagia, melainkan karena akhirnya mengerti.
Bahwa luka terdalam bukan terjadi saat seseorang pergi, melainkan saat kita menyadari bahwa kita tidak pernah benar-benar dimiliki.
Angin malam menyentuh wajahku—dingin, tetapi jujur.
Untuk pertama kalinya, aku tidak berusaha menolaknya.
Karena mungkin, ini bukan tentang siapa yang pergi, melainkan tentang siapa yang akhirnya belajar untuk kembali—
kepada Tuhan,
dan kepada dirinya sendiri.
Komentar
Posting Komentar