Yang Tidak Pernah Pulang/Bab-3

Bab 3 — Kedekatan

Sejak pertemuan itu, tidak ada yang benar-benar berubah—setidaknya di permukaan.

Aku tetap datang ke kedai yang sama.
Memesan kopi yang sama.
Duduk di kursi yang sama.

Namun, kini ada sesuatu yang berbeda.

Aku menunggu.

Bukan sesuatu yang pasti.
Bukan janji yang pernah diucapkan.
Hanya sebuah kemungkinan—yang entah mengapa terasa cukup untuk membuatku kembali.

Dan seperti kebiasaan yang perlahan terbentuk tanpa disadari, Nayara kembali datang.

Tidak setiap hari.
Tidak dengan waktu yang bisa ditebak.
Namun selalu pada saat yang terasa… tepat.

“Kamu lagi,” katanya suatu sore, duduk di kursi seberang tanpa banyak basa-basi.

Aku tersenyum tipis.
“Sepertinya aku yang harus bilang begitu.”

Nayara mengangkat bahu ringan.
“Mungkin kita hanya sering berada di tempat yang sama.”

“Atau mencari hal yang sama,” balasku.

Ia tidak langsung menjawab. Hanya menatap cangkir di depannya, seolah ada sesuatu yang lebih menarik di sana daripada percakapan kami.

Hening kembali hadir.
Namun kini, hening itu terasa akrab.

“Apa kamu selalu seperti ini?” tanyaku akhirnya.
“Datang… lalu menghilang?”

Nayara menoleh sedikit.
“Dan kamu selalu memperhatikan?”

Aku menghela napas pelan.
“Tidak. Hanya saja… kamu berbeda.”

Ia tersenyum tipis.
“Semua orang merasa begitu tentang seseorang, sampai akhirnya mereka sadar—tidak ada yang benar-benar berbeda.”

“Kalau begitu, kenapa kamu tetap datang ke sini?” tanyaku.

Nayara tidak langsung menjawab. Ia menatap ke luar jendela, pada langit yang perlahan berubah warna.

“Mungkin karena di sini, aku tidak perlu menjelaskan apa pun,” katanya pelan.

Aku mengangguk.
“Dan aku tidak perlu berpura-pura mengerti.”

Kali ini, ia benar-benar tersenyum.

Waktu berjalan tanpa terasa. Percakapan kami tidak selalu dalam. Kadang hanya tentang hal-hal sederhana—cuaca, buku, atau keheningan yang kami bagi tanpa perlu alasan.

Namun justru di situlah sesuatu tumbuh.

Bukan cinta yang meledak-ledak.
Bukan pula hubungan yang jelas arahnya.

Hanya kedekatan yang perlahan mengisi ruang-ruang kosong… tanpa pernah meminta izin.

“Apa kamu percaya,” kataku suatu malam,
“bahwa dua orang bisa dekat tanpa harus memiliki apa-apa?”

Nayara menatapku lebih lama dari biasanya.

“Percaya,” jawabnya.
“Tapi biasanya itu tidak bertahan lama.”

“Kenapa?”

“Karena salah satu akan mulai berharap,” katanya tenang.

Aku terdiam.

“Dan yang lain?” tanyaku.

Nayara mengalihkan pandangan.
“Yang lain… biasanya tidak siap.”

Kata-kata itu sederhana.
Namun entah mengapa terasa seperti peringatan.

Aku menatapnya.
“Ingatkan aku kalau aku mulai berharap.”

Nayara tersenyum, kali ini lebih lembut.
“Aku tidak pandai mengingatkan orang lain.”

“Lalu?”

“Aku hanya pandai pergi,” jawabnya pelan.

Hening.

Bukan hening yang nyaman seperti sebelumnya.
Melainkan hening yang menyisakan sesuatu—yang belum sempat dipahami, tetapi sudah terasa.

Aku tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana.
“Berarti aku harus belajar bersiap.”

“Untuk apa?” tanyanya.

Aku menatapnya sejenak.
“Untuk tidak terkejut.”

Nayara tidak menjawab.

Namun dari caranya menatap,
aku tahu—

ia mengerti.

Dan di antara semua hal yang belum jelas,
di antara jarak yang tidak pernah benar-benar hilang,
aku mulai menyadari sesuatu:

kedekatan ini tidak sederhana.

Ia tidak meminta kepastian.
Tidak juga menawarkan jaminan.

Namun cukup kuat
untuk membuat seseorang tetap tinggal—
meski tahu
ia bisa pergi kapan saja.

---

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yang Tidak Sempat

Yang Tidak Pernah Pulang/Bab-2

Nyawa yang Menulis