Aku Mencintaimu, Tapi Tuhan Lebih Dulu Memanggilku Pulang
Bab 1: Pertemuan yang Tidak Direncanakan
Langit sore itu tidak benar-benar mendung.
Tapi entah kenapa, warnanya terasa berat—seolah langit sedang memikirkan sesuatu yang tidak mampu ia ucapkan.
Aku berdiri di trotoar, memandangi orang-orang yang berlalu lalang seperti arus yang tak pernah bertanya ke mana arah hidupnya. Semua berjalan cepat. Semua terlihat punya tujuan.
Kecuali aku.
Di umur yang seharusnya sudah mulai “mapan”, aku justru merasa seperti kehilangan arah. Bukan karena tidak punya mimpi—justru karena terlalu banyak yang ingin kugapai, sampai akhirnya aku diam di tempat.
Ironis.
Manusia seringkali tidak kalah karena gagal.
Tapi karena terlalu lama berpikir.
Aku menghela napas panjang.
Di dalam dada, ada sesuatu yang sulit dijelaskan. Bukan luka, bukan juga bahagia. Seperti ruang kosong… yang menunggu diisi, tapi aku sendiri tidak tahu dengan apa.
“Kadang hidup itu aneh ya…”
Aku bergumam pelan.
“Kita mencari sesuatu yang bahkan kita sendiri tidak benar-benar pahami.”
Langkahku pelan, tanpa arah yang jelas. Sampai akhirnya—
Bruk.
Seseorang menabrakku.
Tidak keras, tapi cukup membuat kesadaran yang tadinya melayang… kembali jatuh ke bumi.
“Astaghfirullah… maaf, saya nggak lihat.”
Suaranya lembut.
Tidak dibuat-buat.
Tidak berlebihan.
Tapi entah kenapa… langsung terasa.
Aku menoleh.
Dan di detik itu, waktu seperti berhenti tanpa izin.
Dia berdiri di depanku.
Mengenakan hijab sederhana, tanpa aksesoris mencolok. Wajahnya tidak bisa dibilang sempurna menurut standar dunia… tapi ada sesuatu yang jauh lebih kuat dari sekadar “cantik”.
Tenang.
Itu kata pertama yang muncul di kepalaku.
Matanya tidak gelisah seperti kebanyakan orang.
Tidak terburu-buru seperti dunia yang terus berlari.
Seolah… dia tidak sedang dikejar apa pun.
Dan justru itu yang membuatku terpaku.
“Apa… kamu tidak apa-apa?”
Dia bertanya lagi.
Aku tersadar, sedikit kikuk.
“Iya… saya yang harusnya minta maaf. Saya juga nggak fokus.”
Dia tersenyum tipis.
Senyum yang sederhana.
Tapi cukup untuk membuat sesuatu di dalam dadaku… bergerak.
Aneh.
Aku bahkan tidak mengenalnya.
Tapi ada perasaan yang sulit dijelaskan—seperti pernah kehilangan sesuatu… dan sekarang, tanpa alasan yang jelas… aku merasa menemukannya kembali.
“Kalau begitu… saya duluan ya.”
Dia sedikit menunduk, lalu melangkah pergi.
Dan aku…
Tidak bergerak.
Aku hanya berdiri, memperhatikan langkahnya yang semakin jauh.
Sampai akhirnya hilang di antara keramaian.
Dan saat itu juga, ada satu hal yang tiba-tiba terasa jelas dalam hidupku yang selama ini kabur.
Bahwa…
Tidak semua pertemuan datang untuk tinggal.
Sebagian…
datang hanya untuk mengubah arah hidup kita.
Aku tersenyum kecil.
Entah kenapa, untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir…
Aku merasa hidupku… mulai bergerak lagi.
Tiga hari kemudian, aku melihatnya lagi.
Di tempat yang tidak pernah kuduga.
Di sebuah masjid kecil, di sudut kota yang jarang dikunjungi anak muda sepertiku.
Dia duduk di sana.
Diam.
Membaca sesuatu.
Dan untuk pertama kalinya, aku melihatnya bukan sebagai seseorang yang “indah”… tapi sebagai seseorang yang “tenang”.
Dan di situlah aku mulai sadar…
Mungkin…
yang selama ini kucari bukan cinta.
Tapi arah pulang.
Dan aku belum tahu…
bahwa wanita itu—
bukan hanya akan mengubah hidupku.
Tapi juga…
menghancurkannya dengan cara yang paling indah.

Komentar
Posting Komentar