Aku Mencintaimu, Tapi Tuhan Lebih Dulu Memanggilku Pulang

 

Bab 3: Percakapan yang Mengubah Cara Pandang


Malam turun perlahan.


Lampu-lampu kota mulai menyala, menggantikan matahari yang sejak tadi sore seolah lelah menyaksikan kehidupan manusia yang tak pernah benar-benar berhenti.


Aku duduk di teras masjid.


Tidak langsung pulang.


Bukan karena tidak ingin… tapi karena ada sesuatu yang membuatku ingin tinggal lebih lama.


Mungkin suasananya.


Mungkin ketenangannya.


Atau mungkin… karena seseorang.


Nayara.


Dia duduk tidak jauh dariku.


Masih dengan sikap yang sama—tenang, sederhana, tidak berusaha menjadi pusat perhatian, tapi justru… sulit untuk diabaikan.


Ada jenis manusia yang bersinar karena ingin dilihat.


Ada juga… yang justru bersinar karena dekat dengan sesuatu yang lebih besar dari dirinya.


Dan aku mulai curiga… Nayara adalah yang kedua.


“Aneh ya…”


Aku membuka percakapan.


Dia menoleh pelan.


“Apa?”


“Kadang kita baru ingat Tuhan… justru saat hidup kita mulai tidak baik-baik saja.”


Dia tidak langsung menjawab.


Seperti biasa—dia tidak terburu-buru.


Seolah setiap kata yang keluar darinya… harus melewati keheningan dulu.


“Itu bukan aneh,” katanya pelan, “itu manusia.”


Aku tersenyum tipis.


“Jadi… wajar kalau kita datang hanya saat butuh?”


Dia menggeleng.


“Bukan soal wajarnya,” jawabnya, “tapi soal… mau sampai kapan kita seperti itu.”


Kalimat itu sederhana.


Tapi seperti mengetuk sesuatu di dalam diriku yang selama ini tertutup rapat.


Aku terdiam.


Untuk beberapa detik… aku tidak punya jawaban.


Karena mungkin… aku memang tidak pernah benar-benar memikirkan itu.


Aku hanya menjalani hidup.


Berusaha terlihat kuat.


Berusaha terlihat tahu arah.


Padahal dalam diam… aku sendiri sering tersesat.


“Kamu pernah ngerasa kosong… padahal semua terlihat baik-baik saja?”


Aku akhirnya bertanya.


Pertanyaan yang sebenarnya bukan untuknya.


Tapi untuk diriku sendiri.


Dia menatapku.


Dalam.


Seolah tidak hanya melihat wajahku… tapi membaca sesuatu yang lebih dalam dari itu.


“Sering.”


Jawabannya singkat.


Tapi jujur.


“Dan kamu tahu kenapa?”


Aku menggeleng pelan.


“Karena kita sering mengisi hidup dengan banyak hal… tapi lupa mengisi hati dengan yang seharusnya.”


Aku menelan ludah.


Kalimat itu… tidak keras.


Tapi tepat.


Terlalu tepat.


Seperti seseorang yang tidak sedang menghakimi… tapi menunjukkan cermin.


“Aku dulu juga seperti itu,” lanjutnya, “sibuk mengejar banyak hal, sampai lupa… untuk bertanya, ‘ini semua untuk apa?’”


Aku menunduk.


Angin malam berhembus pelan.


Membawa suasana yang sulit dijelaskan.


Tenang… tapi dalam.


“Terus… kamu berubah?”


Dia tersenyum kecil.


“Bukan berubah,” katanya, “lebih tepatnya… dipaksa untuk sadar.”


Aku mengangkat kepala.


“Dipaksa?”


Dia mengangguk.


“Iya. Kadang kita tidak akan berhenti… kalau tidak dihentikan.”


Aku mulai mengerti arah pembicaraan ini.


Dan entah kenapa… ada sedikit rasa takut.


“Dihentikan… dalam arti?”


Dia menatap ke depan.


Tidak lagi ke arahku.


Seolah ada sesuatu yang sedang ia ingat.


“Sesuatu yang kita cintai… bisa saja diambil.”


Sunyi.


Kalimat itu jatuh pelan.


Tapi efeknya… tidak pelan.


Aku merasakan dada sedikit menegang.


“Apa kamu pernah kehilangan seseorang?”


Tanyaku hati-hati.


Dia tersenyum.


Tapi kali ini berbeda.


Ada sesuatu di balik senyumnya.


“Iya.”


Jawabannya singkat.


Tapi cukup untuk membuatku tidak bertanya lebih jauh.


Karena aku tahu…


tidak semua luka perlu diceritakan untuk bisa dirasakan.


Kami kembali diam.


Tapi bukan diam yang canggung.


Diam yang… penuh.


Seperti dua orang yang sedang memahami sesuatu tanpa harus banyak bicara.


“Kadang Tuhan tidak mengambil untuk menyiksa,” katanya pelan, “tapi untuk mengembalikan kita… ke arah yang benar.”


Aku menarik napas dalam.


Kata-katanya…


pelan, tapi dalam.


Seperti air yang meresap tanpa suara.


“Dan kamu… sudah menemukan arah itu?”


Aku bertanya.


Dia tidak langsung menjawab.


Hanya tersenyum kecil.


“Arah itu bukan sesuatu yang langsung ditemukan,” katanya, “tapi sesuatu yang terus dijaga… setiap hari.”


Aku mengangguk pelan.


Untuk pertama kalinya… aku merasa sedang belajar.


Bukan dari buku.


Bukan dari teori.


Tapi dari seseorang… yang benar-benar hidup di dalam apa yang ia katakan.


Dan anehnya…


aku tidak merasa digurui.


Aku merasa… ditemani.


“Kalau kamu?” dia bertanya balik, “kamu lagi cari apa?”


Pertanyaan itu…


sederhana.


Tapi berat.


Aku terdiam cukup lama.


Mencari jawaban yang jujur.


Bukan yang terdengar baik.


“Aku… lagi cari tenang.”


Akhirnya aku menjawab.


Dia mengangguk.


“Semua orang juga.”


“Tapi… tidak semua tahu harus ke mana mencarinya.”


Aku tersenyum tipis.


“Dan kamu tahu?”


Dia tidak menjawab dengan kata.


Hanya mengangkat mushaf kecil di tangannya.


Isyarat sederhana.


Tapi… jelas.


Aku menatapnya.


Lalu menatap mushaf itu.


Dan untuk pertama kalinya… aku merasa tertarik.


Bukan karena kewajiban.


Tapi karena… ingin.


---


Malam semakin larut.


Masjid mulai sepi.


Satu per satu orang pulang, kembali ke dunia masing-masing.


Aku berdiri.


Nayara juga.


Kami berjalan keluar bersama.


Langkah kami pelan.


Tidak terburu-buru.


Seperti dua orang yang sama-sama tahu… bahwa momen ini tidak perlu dipercepat.


“Terima kasih ya.”


Aku berkata.


Dia menoleh.


“Untuk apa?”


“Untuk… percakapannya.”


Dia tersenyum.


“Kadang kita cuma butuh didengarkan… bukan diajarkan.”


Aku mengangguk.


Dan untuk pertama kalinya… aku merasa benar-benar didengarkan.


Kami berhenti di depan gerbang.


Sejenak.


Seolah ada sesuatu yang ingin dikatakan… tapi belum menemukan bentuknya.


“Aku harap… kamu tetap datang ke sini.”


Katanya pelan.


Aku tersenyum.


“Kalau ada kamu?”


Dia menggeleng kecil.


“Bukan karena aku.”


Jawabannya tenang.


“Tapi karena… kamu butuh.”


Aku terdiam.


Lagi-lagi… dia benar.


Dan itu yang membuatku tidak bisa menyangkal.


Dia melangkah pergi.


Perlahan.


Seperti biasa.


Dan aku hanya berdiri…


memperhatikan.


Sampai akhirnya bayangannya hilang di ujung jalan.


---


Malam itu, aku pulang dengan pikiran yang berbeda.


Bukan karena aku sudah menemukan semua jawaban.


Tapi karena…


aku akhirnya tahu pertanyaan apa yang harus kutanyakan pada diriku sendiri.


Tentang hidup.


Tentang tujuan.


Dan tentang Tuhan… yang selama ini mungkin terlalu lama kutinggalkan.


Dan di antara semua itu—


ada satu hal yang tidak bisa kupungkiri.


Bahwa kehadiran Nayara…


bukan hanya membuatku merasa lebih tenang.


Tapi juga…


membuatku mulai takut.


Takut… jika suatu hari nanti…


aku harus kehilangan dia.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yang Tidak Sempat

Yang Tidak Pernah Pulang/Bab-2

Nyawa yang Menulis