Aku Mencintaimu, Tapi Tuhan Lebih Dulu Memanggilku Pulang

Bab 2: Doa yang Tidak Sengaja Dipertemukan


Masjid itu tidak besar.



Tidak juga megah seperti yang sering muncul di foto-foto wisata religi. Dindingnya sederhana, catnya mulai memudar di beberapa bagian, dan karpetnya tidak sepenuhnya rata.


Tapi justru di situlah letak kejujurannya.


Tempat ini tidak berusaha terlihat suci.

Ia hanya… digunakan untuk bersujud.


Aku tidak tahu kenapa kakiku melangkah ke sana sore itu.


Mungkin karena lelah.

Mungkin karena kosong.

Atau mungkin… karena aku sedang mencari sesuatu yang selama ini tidak pernah benar-benar kucari.


Aku melepas sepatu, lalu masuk perlahan.


Udara di dalam terasa berbeda.


Tenang.

Tidak dingin, tapi menenangkan.


Seperti ada sesuatu yang mengingatkan bahwa hidup ini tidak sekeras yang kita bayangkan… jika kita tahu ke mana harus kembali.


Aku duduk di pojok.


Bukan untuk langsung shalat.


Tapi untuk diam.


Karena terkadang, diam adalah bentuk paling jujur dari doa.


Dan di situlah aku melihatnya.


Dia.


Wanita yang tiga hari lalu tanpa sengaja menabrakku… dan entah kenapa, meninggalkan sesuatu di dalam pikiranku.


Dia duduk tidak jauh dari tiang masjid.


Kepalanya sedikit tertunduk, tangannya memegang mushaf kecil. Bibirnya bergerak pelan—membaca, tapi tanpa suara.


Aku tidak bisa mendengar ayat yang ia lantunkan.


Tapi aku bisa merasakan ketenangannya.


Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama… aku merasa iri.


Bukan iri karena apa yang dia miliki.


Tapi iri karena… bagaimana dia terlihat begitu damai.


Sementara aku?


Masih sibuk berperang dengan isi kepala sendiri.


Aku menunduk.


Tiba-tiba merasa… kecil.


Seolah semua pencapaian yang selama ini kubanggakan… tidak ada artinya di tempat ini.


Karena di sini, tidak ada yang ditanya:

berapa banyak uangmu,

seberapa tinggi statusmu,

atau seberapa hebat dirimu.


Yang ditanya hanya satu:


**“Seberapa dekat kamu dengan Tuhanmu?”**


Dan aku tidak punya jawaban yang meyakinkan untuk itu.


Aku mengusap wajah pelan.


Entah kenapa, dada terasa sesak.


Bukan karena masalah baru.


Tapi karena… terlalu lama menunda pulang.


“Kenapa baru sekarang datang?”


Suara itu muncul di dalam kepalaku sendiri.


Aku tersenyum pahit.


“Iya… kenapa ya…”


Aku berdiri perlahan, lalu mengambil wudhu.


Air yang menyentuh wajahku terasa seperti membangunkan sesuatu yang lama tertidur.


Bukan tubuhku.


Tapi… hatiku.


Setelah itu, aku berdiri dalam shalat.


Takbir.


Dan di detik itu, dunia seperti berhenti.


Semua yang selama ini berisik di kepala—tiba-tiba diam.


Tidak sepenuhnya hilang.

Tapi… tidak lagi berkuasa.


Aku membaca doa dengan terbata.


Sudah lama aku tidak benar-benar “hadir” dalam shalat.


Biasanya hanya gerakan.

Tanpa rasa.


Tapi hari itu berbeda.


Hari itu, aku tidak tahu harus meminta apa.


Karena untuk pertama kalinya… aku merasa tidak tahu apa yang sebenarnya kubutuhkan.


Aku hanya berkata dalam hati:


“Ya Allah… kalau selama ini aku terlalu jauh… jangan biarkan aku tersesat terlalu lama.”


Sederhana.


Tapi jujur.


Dan mungkin… kejujuran itulah yang selama ini hilang.


Setelah salam, aku tetap duduk.


Tidak buru-buru pergi.


Karena entah kenapa, aku merasa… belum selesai.


Aku menoleh.


Dan dia masih di sana.


Masih membaca.


Masih tenang.


Seolah dunia tidak pernah benar-benar mengganggunya.


Aku menarik napas.


Ada dorongan kecil di dalam diri untuk mendekat.


Bukan karena ingin berkenalan.


Bukan juga karena sekadar penasaran.


Tapi karena… aku ingin tahu.


Apa yang membuat seseorang bisa setenang itu di dunia yang sekeras ini?


Langkahku pelan.


Sangat pelan.


Seolah takut merusak ketenangan yang sudah lebih dulu ada.


Sampai akhirnya aku berdiri tidak jauh darinya.


Dia menutup mushafnya.


Lalu menoleh.


Dan mata kami bertemu lagi.


Kali ini… tidak ada tabrakan.


Tidak ada kejutan.


Hanya dua manusia… yang seolah sedang mencari sesuatu yang sama, tapi dari arah yang berbeda.


Dia tersenyum kecil.


“Kita ketemu lagi.”


Aku mengangguk, sedikit canggung.


“Iya… sepertinya bukan kebetulan.”


Dia tidak langsung menjawab.


Hanya menatapku sejenak, lalu berkata pelan:


“Tidak ada yang benar-benar kebetulan.”


Kalimat itu sederhana.


Tapi entah kenapa… terasa dalam.


Seperti bukan sekadar ucapan.


Tapi keyakinan.


“Kamu sering ke sini?” tanyaku.


Dia menggeleng.


“Tidak terlalu. Tapi kalau hati mulai ramai… saya ke sini.”


Aku terdiam.


“Hati ramai…”


Aku mengulang pelan.


“Iya,” lanjutnya, “kadang hidup tidak berisik di luar… tapi berisik di dalam.”


Aku tersenyum tipis.


Untuk pertama kalinya… ada seseorang yang mengerti tanpa perlu banyak penjelasan.


“Kalau kamu?” dia balik bertanya.


Aku menarik napas.


“Sejujurnya… saya baru mulai belajar kembali.”


Dia mengangguk.


Tidak menghakimi.

Tidak heran.


Seolah itu hal yang biasa.


“Yang penting bukan seberapa jauh kita pergi,” katanya pelan, “tapi… apakah kita mau kembali atau tidak.”


Kalimat itu…


Sekali lagi, sederhana.


Tapi terasa seperti ditujukan langsung untukku.


Dan anehnya… aku tidak merasa tersinggung.


Aku merasa… ditenangkan.


Kami terdiam sejenak.


Bukan karena kehabisan kata.


Tapi karena… tidak semua momen perlu diisi suara.


“Nama kamu siapa?”


Aku akhirnya bertanya.


Dia tersenyum.


“Nayara.”


Nama itu…


Terasa asing.


Tapi entah kenapa… seperti sudah pernah kudengar di tempat yang sangat jauh.


“Aku—”


Aku belum sempat menyebutkan namaku.


Suara adzan maghrib mulai berkumandang.


Mengisi ruang.


Mengisi hati.


Dan untuk kedua kalinya hari itu… dunia seperti diingatkan untuk berhenti sejenak.


Dia berdiri.


“Ayo shalat dulu.”


Aku mengangguk.


Dan tanpa sadar…


Langkah kami searah.


---


Malam itu, aku pulang dengan perasaan yang berbeda.


Tidak sepenuhnya tenang.


Tapi tidak juga kosong.


Seperti seseorang yang baru saja menemukan jalan… meski belum tahu ke mana ujungnya.


Dan di tengah perjalanan pulang, satu hal terus berputar di kepalaku:


Tentang pertemuan.


Tentang doa.


Dan tentang seseorang bernama Nayara… yang entah kenapa terasa seperti jawaban.


Aku belum tahu…


bahwa bukan aku yang menemukan dia.


Tapi…


kami sedang dipertemukan oleh sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar kebetulan.


Dan aku juga belum tahu—


bahwa setiap doa yang dipanjatkan hari itu…


akan membawa konsekuensi yang tidak pernah siap kuterima.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yang Tidak Sempat

Yang Tidak Pernah Pulang/Bab-2

Nyawa yang Menulis