Aku Mencintaimu, Tapi Tuhan Lebih Dulu Memanggilku Pulang

 

Bab 4: Perasaan yang Mulai Tumbuh… dan Batas yang Tak Terlihat


Hari-hari setelah itu… berubah.

Tidak drastis.

Tidak juga seperti cerita-cerita yang tiba-tiba penuh warna.

Tapi pelan.

Seperti hujan pertama setelah kemarau panjang.

Tidak deras.

Tapi cukup untuk membuat tanah kembali hidup.

Aku—yang biasanya langsung pulang setelah kerja—mulai mengubah kebiasaan.

Bukan karena kewajiban.

Bukan karena paksaan.

Tapi karena… ingin.

Masjid kecil itu…

sekarang terasa seperti tempat yang selalu menunggu.

Dan entah kenapa, setiap langkah ke sana… terasa lebih ringan.

---

“Lo berubah, Ka.”

Suara itu datang dari belakang.

Aku menoleh.

**Dimas.**

Dia berdiri sambil menyilangkan tangan, menatapku dengan ekspresi setengah curiga, setengah heran.

“Berubah gimana?”

“Tiba-tiba rajin ke masjid. Biasanya lo paling susah diajak.”

Aku tersenyum kecil.

“Orang bisa berubah.”

Dia mendekat.

“Bisa sih. Tapi biasanya… ada sebabnya.”

Aku tidak menjawab.

Karena aku tahu… dia tidak salah.

“Cewek?” tebaknya cepat.

Aku menghela napas.

“Bukan seperti itu.”

Dia tertawa pelan.

“Semua cowok selalu bilang begitu di awal.”

Aku hanya menggeleng.

Karena aku sendiri… belum tahu ini apa.

---

Sore itu, aku kembali ke masjid.

Langkahku lebih cepat dari biasanya.

Bukan karena terburu-buru.

Tapi karena… ada yang ingin kutemui.

Dan benar saja—

Nayara sudah di sana.

Duduk di tempat yang sama.

Seperti hari-hari sebelumnya.

Tenang.

Seolah dunia tidak pernah benar-benar menyentuhnya.

Aku mendekat.

Dia menoleh.

Tersenyum.

“Datang lagi.”

Aku mengangguk.

“Sepertinya… jadi kebiasaan.”

Dia tersenyum kecil.

“Kebiasaan yang baik.”

Aku duduk di sampingnya.

Tidak terlalu dekat.

Tapi juga tidak terlalu jauh.

Cukup… untuk merasa hadir.

---

“Raka,” katanya pelan.

“Iya?”

“Kamu pernah takut… sama perasaan sendiri?”

Aku sedikit terkejut.

“Kenapa tanya begitu?”

Dia tidak langsung menjawab.

Hanya menatap ke depan.

“Kadang… hati itu tidak bisa diatur.”

Aku terdiam.

Karena aku mulai mengerti arah pembicaraan ini.

“Dan tidak semua yang kita rasakan… harus kita miliki.”

Kalimat itu…

jatuh pelan.

Tapi terasa berat.

Aku menoleh.

Menatapnya.

“Kamu lagi bicara tentang apa?”

Dia tersenyum tipis.

“Tidak semua hal perlu dijelaskan.”

Jawabannya tenang.

Tapi jelas.

---

Untuk pertama kalinya…

aku merasa ada jarak.

Bukan jarak fisik.

Tapi… batas.

Yang tidak terlihat.

Tapi terasa.

Dan anehnya… justru itu yang membuat perasaanku semakin jelas.

Aku mulai sadar.

Bahwa kehadirannya bukan sekadar nyaman.

Bukan sekadar teman bicara.

Tapi sesuatu yang lebih.

Dan itu… berbahaya.

---

“Dimas bilang… aku berubah.”

Aku akhirnya berkata.

Nayara tersenyum.

“Itu bagus.”

“Tapi dia pikir… karena seseorang.”

Aku menatapnya.

Dia tidak menghindar.

“Tapi mungkin dia tidak salah.”

Aku terdiam.

Karena untuk pertama kalinya…

aku tidak bisa menyangkal.

---

Adzan ashar mulai berkumandang.

Kami berdiri.

Shalat.

Seperti biasa.

Tapi kali ini…

rasanya berbeda.

Karena untuk pertama kalinya…

aku tidak hanya berjuang melawan pikiranku.

Tapi juga… perasaanku sendiri.

---

Setelah shalat, kami duduk lagi.

Hening sejenak.

“Raka,” katanya pelan.

“Iya?”

“Kalau suatu hari nanti… kamu harus memilih…”

Aku menoleh.

“Memilih apa?”

Dia menatapku.

Dalam.

“Antara apa yang kamu inginkan… dan apa yang benar menurut Tuhan…”

Aku terdiam.

Pertanyaan itu…

tidak sederhana.

“...kamu pilih yang mana?”

Aku menarik napas panjang.

Tidak langsung menjawab.

Karena aku tahu…

jawaban ini akan menentukan banyak hal.

“Aku… ingin memilih yang benar.”

Akhirnya aku berkata.

Dia tersenyum.

Tapi ada sesuatu di balik senyum itu.

“Semoga.”

Katanya pelan.

---

Langit mulai gelap.

Kami berjalan keluar bersama.

Seperti biasa.

Tapi kali ini…

tidak ada banyak kata.

Karena mungkin…

kami berdua sedang memikirkan hal yang sama.

Tentang rasa.

Tentang batas.

Dan tentang sesuatu yang… tidak boleh tumbuh terlalu jauh.

---

Di depan gerbang, kami berhenti.

Sejenak.

“Raka…”

“Iya?”

“Jangan terlalu dekat… kalau kamu belum siap kehilangan.”

Aku membeku.

Kalimat itu…

seperti peringatan.

Atau mungkin… doa yang disamarkan.

Dia tersenyum.

Lalu pergi.

Seperti biasa.

Tenang.

Tanpa menoleh lagi.

---

Aku berdiri sendiri.

Di bawah langit yang mulai gelap.

Dan untuk pertama kalinya…

aku merasa takut.

Bukan takut mencintai.

Tapi…

takut jika perasaan ini…

harus berhenti sebelum sempat dimulai.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yang Tidak Sempat

Yang Tidak Pernah Pulang/Bab-2

Nyawa yang Menulis