Yang Tidak Pernah Pulang/Bab-4

Bab 4 — Harapan

Tidak ada yang berubah,
dan justru itu yang mulai terasa aneh.

Nayara masih datang.
Masih duduk di kursi yang sama.
Masih berbicara dengan tenang—seolah tidak ada yang perlu dikejar.

Namun aku mulai merasakan sesuatu yang berbeda.

Bukan pada dirinya.

Tapi pada diriku sendiri.

“Apa kamu pernah merasa,” kataku suatu sore,
“bahwa sesuatu berjalan… tanpa benar-benar ke mana-mana?”

Nayara mengangkat pandangannya dari cangkir kopi.
“Sering,” jawabnya singkat.

“Lalu kamu biarkan saja?” tanyaku.

Ia mengangguk pelan.
“Tidak semua hal harus punya arah.”

Aku tersenyum tipis, meski ada sesuatu yang terasa tidak sepenuhnya cocok.

“Tapi manusia biasanya ingin tahu,” balasku,
“ini akan berakhir di mana.”

Nayara tidak langsung menjawab. Ia menatapku lebih lama dari biasanya—seolah menimbang sesuatu yang tidak ia ucapkan.

“Dan kalau ternyata tidak berakhir seperti yang kamu inginkan?” tanyanya.

Aku terdiam sejenak.

“Setidaknya aku pernah tahu rasanya,” jawabku pelan.

Ia menunduk.
“Kadang tahu… justru membuat segalanya lebih sulit.”

Hening.

Kali ini bukan hening yang nyaman.
Ada jarak tipis yang mulai terasa—tidak terlihat, tetapi cukup untuk disadari.

“Aku menunggu kamu tadi,” kataku, mencoba mengalihkan suasana.

Nayara menoleh sedikit.
“Menunggu?”

“Iya. Kamu datang lebih lama dari biasanya.”

Ia tersenyum kecil.
“Sejak kapan kamu mulai menghitung?”

Pertanyaan itu terdengar ringan, tetapi menyisakan sesuatu yang sulit dijelaskan.

“Aku tidak menghitung,” jawabku.
“Hanya… memperhatikan.”

“Berhati-hatilah,” katanya pelan.
“Perhatian yang terlalu dalam… sering berubah jadi harapan.”

Aku menatapnya.

“Dan itu salah?”

Nayara menghela napas tipis.
“Bukan salah. Hanya… berbahaya.”

Aku tertawa kecil.
“Berarti aku sudah terlambat.”

Ia tidak ikut tertawa.

“Riki,” ucapnya, lebih lembut dari biasanya,
“aku tidak ingin jadi alasan kamu berharap sesuatu yang tidak bisa aku berikan.”

Kalimat itu jatuh tanpa suara,
tetapi terasa seperti sesuatu yang pecah di dalam.

Aku menahan napas sejenak.

“Aku tidak meminta apa-apa,” kataku pelan.

Nayara menggeleng.
“Harapan tidak selalu diminta.”

Aku tersenyum tipis, mencoba terlihat biasa saja.
“Tapi juga tidak selalu bisa dihentikan.”

Ia menatapku, kali ini dengan sesuatu yang berbeda—bukan dingin, bukan juga hangat.

Seperti seseorang yang tahu…
tetapi memilih untuk tidak melangkah lebih jauh.

“Kamu harus berhenti sebelum terlalu jauh,” katanya.

“Dan kalau aku tidak bisa?” tanyaku.

Nayara terdiam.

Untuk pertama kalinya, ia terlihat ragu.

“Itu pilihan kamu,” jawabnya akhirnya.
“Tapi aku tidak bisa ikut berjalan di arah itu.”

Kata-kata itu sederhana.

Namun cukup untuk menjelaskan segalanya—tanpa benar-benar menjelaskan apa pun.

Aku mengangguk pelan.

“Baik,” ucapku.

Namun di dalam, aku tahu—
aku tidak benar-benar baik.

Karena di antara semua yang belum pernah kami sepakati,
di antara semua yang tidak pernah diucapkan—

aku sudah mulai berharap.

Dan seperti yang Nayara katakan,

harapan…
tidak selalu meminta izin untuk tumbuh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yang Tidak Sempat

Yang Tidak Pernah Pulang/Bab-2

Nyawa yang Menulis