Yang Tidak Pernah Pulang/Bab 5
Bab 5 — Menjauh
Hari-hari berikutnya terasa lebih panjang dari biasanya.
Aku tetap datang ke kedai itu.
Memesan kopi yang sama.
Duduk di kursi yang sama.
Namun Nayara… tidak.
Awalnya satu hari.
Lalu dua.
Lalu menjadi kebiasaan yang diam-diam aku tolak untuk aku akui.
Aku mulai memahami satu hal:
kehadiran yang tidak pernah dijanjikan
juga tidak pernah wajib dipertahankan.
“Aku menunggumu,” bisikku suatu malam,
meski tidak ada siapa pun di sana.
Dan untuk pertama kalinya,
kata itu terasa sia-sia.
Komentar
Posting Komentar