Yang Tidak Pernah Pulang/Bab-7
Bab 7 — Yang Tidak Pernah Diucapkan
Malam itu, aku tidak ingin pulang lebih dulu.
“Aku harus jujur,” kataku akhirnya.
Nayara diam.
“Aku mulai berharap,” lanjutku.
Ia menutup mata sejenak.
Seolah kalimat itu sudah ia duga sejak lama.
“Aku sudah memperingatkanmu,” katanya pelan.
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa tetap berjalan ke arah ini?”
Aku tersenyum pahit.
“Karena aku tidak tahu bagaimana cara berhenti.”
Hening.
Dan di antara hening itu,
aku tahu jawabannya akan datang—
meski aku tidak siap.
“Aku tidak bisa membalas itu,” ucap Nayara.
Kalimat sederhana.
Namun cukup untuk meruntuhkan sesuatu yang diam-diam aku bangun.
Komentar
Posting Komentar