Yang Tidak Pernah Pulang/Bab-8

Bab 8 — Retak
Setelah malam itu, semuanya berubah.

Kami masih bertemu.
Masih berbicara.

Namun tidak lagi sama.

Ada jarak yang tidak terlihat.
Ada kata-kata yang tertahan.

Dan yang paling menyakitkan—
ada perasaan yang harus pura-pura tidak ada.

“Aku tidak ingin kehilangan kamu,” kataku suatu hari.

Nayara menatapku dalam.
“Kamu tidak pernah memiliku, Riki.”

Aku terdiam.

Dan untuk pertama kalinya,
aku tidak punya bantahan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yang Tidak Sempat

Yang Tidak Pernah Pulang/Bab-2

Nyawa yang Menulis