Postingan

Aku Mencintaimu, Tapi Tuhan Lebih Dulu Memanggilku Pulang

Gambar
  Bab 4: Perasaan yang Mulai Tumbuh… dan Batas yang Tak Terlihat Hari-hari setelah itu… berubah. Tidak drastis. Tidak juga seperti cerita-cerita yang tiba-tiba penuh warna. Tapi pelan. Seperti hujan pertama setelah kemarau panjang. Tidak deras. Tapi cukup untuk membuat tanah kembali hidup. Aku—yang biasanya langsung pulang setelah kerja—mulai mengubah kebiasaan. Bukan karena kewajiban. Bukan karena paksaan. Tapi karena… ingin. Masjid kecil itu… sekarang terasa seperti tempat yang selalu menunggu. Dan entah kenapa, setiap langkah ke sana… terasa lebih ringan. --- “Lo berubah, Ka.” Suara itu datang dari belakang. Aku menoleh. **Dimas.** Dia berdiri sambil menyilangkan tangan, menatapku dengan ekspresi setengah curiga, setengah heran. “Berubah gimana?” “Tiba-tiba rajin ke masjid. Biasanya lo paling susah diajak.” Aku tersenyum kecil. “Orang bisa berubah.” Dia mendekat. “Bisa sih. Tapi biasanya… ada sebabnya.” Aku tidak menjawab. Karena aku tahu… dia tidak salah. “Cewek?” tebaknya cepa...

Aku Mencintaimu, Tapi Tuhan Lebih Dulu Memanggilku Pulang

Gambar
  Bab 3: Percakapan yang Mengubah Cara Pandang Malam turun perlahan. Lampu-lampu kota mulai menyala, menggantikan matahari yang sejak tadi sore seolah lelah menyaksikan kehidupan manusia yang tak pernah benar-benar berhenti. Aku duduk di teras masjid. Tidak langsung pulang. Bukan karena tidak ingin… tapi karena ada sesuatu yang membuatku ingin tinggal lebih lama. Mungkin suasananya. Mungkin ketenangannya. Atau mungkin… karena seseorang. Nayara. Dia duduk tidak jauh dariku. Masih dengan sikap yang sama—tenang, sederhana, tidak berusaha menjadi pusat perhatian, tapi justru… sulit untuk diabaikan. Ada jenis manusia yang bersinar karena ingin dilihat. Ada juga… yang justru bersinar karena dekat dengan sesuatu yang lebih besar dari dirinya. Dan aku mulai curiga… Nayara adalah yang kedua. “Aneh ya…” Aku membuka percakapan. Dia menoleh pelan. “Apa?” “Kadang kita baru ingat Tuhan… justru saat hidup kita mulai tidak baik-baik saja.” Dia tidak langsung menjawab. Seperti biasa—dia tidak terbu...

Aku Mencintaimu, Tapi Tuhan Lebih Dulu Memanggilku Pulang

Gambar
Bab 2: Doa yang Tidak Sengaja Dipertemukan Masjid itu tidak besar. Tidak juga megah seperti yang sering muncul di foto-foto wisata religi. Dindingnya sederhana, catnya mulai memudar di beberapa bagian, dan karpetnya tidak sepenuhnya rata. Tapi justru di situlah letak kejujurannya. Tempat ini tidak berusaha terlihat suci. Ia hanya… digunakan untuk bersujud. Aku tidak tahu kenapa kakiku melangkah ke sana sore itu. Mungkin karena lelah. Mungkin karena kosong. Atau mungkin… karena aku sedang mencari sesuatu yang selama ini tidak pernah benar-benar kucari. Aku melepas sepatu, lalu masuk perlahan. Udara di dalam terasa berbeda. Tenang. Tidak dingin, tapi menenangkan. Seperti ada sesuatu yang mengingatkan bahwa hidup ini tidak sekeras yang kita bayangkan… jika kita tahu ke mana harus kembali. Aku duduk di pojok. Bukan untuk langsung shalat. Tapi untuk diam. Karena terkadang, diam adalah bentuk paling jujur dari doa. Dan di situlah aku melihatnya. Dia. Wanita yang tiga hari lalu tanpa sengaja ...

Aku Mencintaimu, Tapi Tuhan Lebih Dulu Memanggilku Pulang

Gambar
Bab 1: Pertemuan yang Tidak Direncanakan Langit sore itu tidak benar-benar mendung. Tapi entah kenapa, warnanya terasa berat—seolah langit sedang memikirkan sesuatu yang tidak mampu ia ucapkan. Aku berdiri di trotoar, memandangi orang-orang yang berlalu lalang seperti arus yang tak pernah bertanya ke mana arah hidupnya. Semua berjalan cepat. Semua terlihat punya tujuan. Kecuali aku. Di umur yang seharusnya sudah mulai “mapan”, aku justru merasa seperti kehilangan arah. Bukan karena tidak punya mimpi—justru karena terlalu banyak yang ingin kugapai, sampai akhirnya aku diam di tempat. Ironis. Manusia seringkali tidak kalah karena gagal. Tapi karena terlalu lama berpikir. Aku menghela napas panjang. Di dalam dada, ada sesuatu yang sulit dijelaskan. Bukan luka, bukan juga bahagia. Seperti ruang kosong… yang menunggu diisi, tapi aku sendiri tidak tahu dengan apa. “Kadang hidup itu aneh ya…” Aku bergumam pelan. “Kita mencari sesuatu yang bahkan kita sendiri tidak benar-benar pahami.” Langkah...

Yang Tidak Pernah Pulang /Bab-12

Bab 12 — Pulang (Ending) Malam itu, aku duduk di tempat yang sama. Kopi di hadapanku masih hangat. Namun kali ini, tidak ada yang aku tunggu. Aku tersenyum kecil. Bukan karena aku sudah melupakan. Tapi karena aku sudah menerima. Bahwa tidak semua yang kita cintai ditakdirkan untuk bersama. Sebagian hanya datang untuk mengajarkan kita bagaimana cara melepaskan. Dan untuk pertama kalinya, aku benar-benar mengerti— yang tidak pernah pulang bukan hanya Nayara. Tapi juga versi lama dari diriku. Dan mungkin, itu adalah kehilangan yang paling perlu terjadi

Yang Tidak Pernah Pulang /Bab-11

Bab 11 — Mengerti Butuh waktu untuk benar-benar memahami. Bahwa tidak semua kehilangan adalah hukuman. Kadang, itu adalah cara Tuhan mengembalikan kita dari sesuatu yang terlalu kita gantungkan. Aku pernah berpikir Nayara adalah rumah. Ternyata, ia hanya jalan. Jalan yang mempertemukanku kembali dengan diriku sendiri.

Yang Tidak Pernah Pulang /Bab-10

Bab 10 — Yang Tertinggal Setelah Nayara benar-benar pergi, aku tetap datang ke kedai itu. Sendiri. Seperti awal. Namun kali ini berbeda. Aku tidak lagi menunggu. Aku hanya… mengenang. Bahwa pernah ada seseorang yang mengajarkanku banyak hal tanpa pernah berniat untuk tinggal.