Aku Mencintaimu, Tapi Tuhan Lebih Dulu Memanggilku Pulang
Bab 4: Perasaan yang Mulai Tumbuh… dan Batas yang Tak Terlihat Hari-hari setelah itu… berubah. Tidak drastis. Tidak juga seperti cerita-cerita yang tiba-tiba penuh warna. Tapi pelan. Seperti hujan pertama setelah kemarau panjang. Tidak deras. Tapi cukup untuk membuat tanah kembali hidup. Aku—yang biasanya langsung pulang setelah kerja—mulai mengubah kebiasaan. Bukan karena kewajiban. Bukan karena paksaan. Tapi karena… ingin. Masjid kecil itu… sekarang terasa seperti tempat yang selalu menunggu. Dan entah kenapa, setiap langkah ke sana… terasa lebih ringan. --- “Lo berubah, Ka.” Suara itu datang dari belakang. Aku menoleh. **Dimas.** Dia berdiri sambil menyilangkan tangan, menatapku dengan ekspresi setengah curiga, setengah heran. “Berubah gimana?” “Tiba-tiba rajin ke masjid. Biasanya lo paling susah diajak.” Aku tersenyum kecil. “Orang bisa berubah.” Dia mendekat. “Bisa sih. Tapi biasanya… ada sebabnya.” Aku tidak menjawab. Karena aku tahu… dia tidak salah. “Cewek?” tebaknya cepa...